7 Ciri Sok Tahu
By
: Hanan WDA, S.Kom.I, B. Ed.
Sok tahu’ pada dasarnya adalah “merasa
sudah cukup berpengetahuan” padahal sebenarnya kurang tahu. Masalahnya, orang
yang sok tahu biasanya tidak menyadarinya. Lantas, bagaimana kita tahu bahwa
kita ‘sok tahu’? Mari kita mengambil hikmah dari Al-Qur’an. Ada beberapa ciri
‘sok tahu’ yang bisa kita dapatkan bila kita menggunakan perspektif surat
Al-’Alaq.
Ketika diperintah oleh malaikat Jibril
as., “Bacalah!”, Rasulullah SAW menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Lalu
malaikat Jibril as. menyampaikan lima ayat pertama yang memotivasi beliau untuk
optimis. Adapun orang yang ‘sok tahu’ pesimis akan kemampuannya. Sebelum
berusaha semaksimal mungkin, ia lebih dulu berdalih, “Ngapain baca-baca teori.
Mahamin aja sulitnya minta ampun. Yang penting prakteknya ‘kan?” Padahal, Allah
Sang Pencipta kita itu Maha Pemurah. Ia mengajarkan kepada kita apa saja yang
tidak kita ketahui.
Di sisi lain, ada pula orang Islam yang terlalu optimis dengan pengetahuannya, sehingga enggan memperdalam. Katanya, misalnya, “Ngapain baca Al-Qur’an lagi. Toh udah khatam 7 kali. Mending buat kegiatan lain aja.” Padahal, Al-Qur’an adalah sumber dari segala sumber ilmu, sumber ‘cahaya’ yang tiada habis-habisnya menerangi kehidupan dunia. Katanya, misalnya lagi, “Ngapain belajar ilmu agama lagi, toh sejak SD hingga tamat kuliah udah diajarin terus.” Padahal, ‘ilmu agama’ adalah ilmu kehidupan dunia-akhirat.
2. Enggan Menulis
Orang yang sok tahu terlalu mengandalkan kemampuannya dalam mengingat-ingat dan menghafal pengetahuan atau ilmu yang diperolehnya. Ia enggan mencatat. “Ngerepotin,” katanya. Seolah-olah, otaknya adalah almari baja yang isinya takkan hilang. Padahal, sifat lupa merupakan bagian dari ciri manusia. Orang yang sok tahu enggan mencatat setiap membaca, menyimak khutbah, kuliah, ceramah, dan sebagainya. Padahal, Allah telah mengajarkan penggunaan pena kepada manusia.
Di sisi lain, ada pula orang yang kurang mampu menghafal dan mengingat-ingat pengetahuan yang diperolehnya, tapi ia merasa terlalu bodoh untuk mampu menulis. “Susah,” katanya. Padahal, merasa terlalu bodoh itu jangan-jangan pertanda kemalasan. Emang sih, kalo nulis buat orang lain, kita perlu ketrampilan tersendiri. Tapi, bila nulis buat diri sendiri, bukankah kita gak bakal kesulitan nulis ‘sesuka hati’? Apa susahnya nulis di buku harian, misalnya, “Tentang ciri sok tahu, lihat Al-’Alaq!”?
3.
Membanggakan Keluasan Pengetahuan
Orang yang sok
tahu membanggakan kepintarannya dengan memamerkan betapa ia banyak membaca,
banyak menulis, banyak mendengar, banyak berceramah, dan sebagainya tanpa
menyadari bahwa pengetahuan yang ia peroleh itu semuanya berasal dari Allah. Ia
mengira, prestasi yang berupa luasnya pengetahuannya ia peroleh berkat kerja
kerasnya saja. Padahal, terwujudnya pengetahuan itu pun semuanya atas
kehendak-Allah.
Mungkin ia
suka meminjam atau membeli buku sebanyak-banyaknya, tetapi membacanya hanya
sepintas lalu atau malah hanya memajangnya. Ia merasa punya cukup banyak wawasan tentang banyak hal.
Ia tidak merasa terdorong untuk menjadi ahli di bidang tertentu. Kalau ia
menjadi muballigh ‘tukang fatwa’, semua pertanyaan ia jawab sendiri langsung
walau di luar keahliannya. Ia mungkin bisa menulis atau berbicara
sebanyak-banyaknya di banyak bidang, tetapi kurang memperhitungkan kualitasnya.
4. Merendahkan Orang Lain
Yang Tidak Sepaham
Bagi orang Islam yang sok tahu, siapa
saja yang bertentangan dengan pendapatnya, segera saja ia menuduh mereka telah
melakukan bid’ah, sesat, meremehkan agama, dan sebagainya. Bahkan, misalnya,
sampai-sampai ia melarang orang-orang lain melakukan amal yang caranya lain
walau mereka punya dalil tersendiri. Ia menjadikan dirinya sebagai “Yang Maha
Tahu”, terlalu yakin bahwa pasti pandangan dirinyalah satu-satunya yang benar,
sedangkan pandangan yang lain pasti salah. Padahal, Allah SWT berfirman:
“Janganlah kamu menganggap diri kamu suci; Dia lebih tahu siapa yang memelihara
diri dari kejahatan.” (QS. An-Najm [53] : 32)
Muslim yang sok tahu cenderung
menganggap kesalahan kecil sebagai dosa besar dan menjadikan dosa itu identik
dengan kesesatan dan kekafiran! Lalu atas dasar itu dengan
gampangnya ia mengeluarkan ‘vonis hukuman mati’. Padahal, dalam sebuah hadits
shahih dari Usamah bin Zaid dikabarkan, “Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha
illallaah, maka ia telah Islam dan terpelihara jiwa dan hartanya. Andaikan ia
mengucapkannya lantaran takut atau hendak berlindung dari tajamnya pedang, maka
hak perhitungannya ada pada Allah. Sedang bagi kita cukuplah dengan yang
lahiriah.”
5.
Menutup Telinga Dan Membuang Muka Bila Mendengar Pendapat Lain
Orang yang sok
tahu tidak memberi peluang untuk berdiskusi dengan orang lain. Kalau toh ia
memasuki forum diskusi di suatu situs, misalnya, ia melakukannya bukan untuk
mempertimbangkan pendapat yang berbeda dengan pandangan yang selama ini ia
anut, melainkan untuk mengumandangkan pendapatnya sendiri. Ia hanya melihat
selayang pandang gagasan orang-orang lain, lalu menyerang mereka bila berlainan
dengannya. Ia tidak mau tahu bagaimana mereka berhujjah (berargumentasi).
Di samping itu, orang yang sok tahu
itu bersikap fanatik pada pendapat golongannya sendiri. Seolah-olah ia berseru,
“Adalah hak kami untuk berbicara dan adalah kewajiban kalian untuk
mendengarkan. Hak kami menetapkan, kewajiban kalian mengikuti kami. Pendapat
kami semuanya benar, pendapat kalian banyak salahnya.” Orang yang terlalu fanatik
itu tidak mengakui jalan tengah. Ia menyalahgunakan aksioma, “Yang haq adalah
haq, yang bathil adalah bathil.”
6. Suka Menyatakan
Pendapat Tanpa Dasar Yang Kuat
Muslim yang sok tahu gemar
menyampaikan pendapatnya dengan mengatasnamakan Islam tanpa memeriksa
kuat-lemahnya dasar-dasarnya. Ia suka berkata, “Menurut Islam begini…. Islam
sudah jelas melarang begitu….” dan sebagainya, padahal yang ia ucapkan
sesungguhnya hanyalah, “Menurut saya begini…. Saya melarang keras engkau
begitu….” dan seterusnya. Kalau toh ia berkata, “Menurut saya bla bla bla….”,
ia hanya mengemukakan opini pribadinya belaka tanpa disertai dalil yang kuat,
baik dalil naqli maupun aqli.
7. Suka Berdebat Kusir
Jika pendapatnya dikritik orang lain,
orang yang sok tahu itu berusaha keras mempertahankan pandangannya dan balas
menyerang balik pengkritiknya. Ia enggan mencari celah-celah kelemahan di dalam
pendapatnya sendiri ataupun sisi-sisi kelebihan lawan diskusinya. Sebaliknya,
ia tekun mencari-cari kekurangan lawan debatnya dan menonjol-nonjolkan kekuatan
pendapatnya. Dengan kata lain, setiap berdiskusi ia bertujuan
memenangkan perdebatan, bukan mencari kebenaran.
Demikianlah beberapa ciri orang yang sok tahu menurut surat al-’Alaq dalam pemahamanku. Dengan mengenali ciri-ciri tersebut, semoga kita masing-masing dapat melakukan introspeksi dan memperbaiki diri sehingga kita tidak menjadi orang yang sok tahu. Aamiin.

No comments:
Post a Comment